Total Tayangan Halaman

Kamis, 13 Oktober 2016

Bisa Jadi Solusianya Ada pada Aspirasi Rakyat


Selama ini, posisi rakyat hanya sebatas rakyat. Yang cukukp mendengar dan mengikuti kebijakan-kebejikan pemerintah. Dengan kata lain, rakyat diibaratkan seorarang anak yang harus menuruti apa kata orang tua. Tidak boleh membantah, apalagi melwawan. Sementara pemerintah layaknya orang tua, yang selalu mengatur anak-anaknya supaya menjadi anak yang baik, kalua menurut bahasa agama, anak soleh dan solehah. Tentu, ini tidak salah. Baik malah. Artinya pemerintah cukup perhatian dengan rakyatnya.
Yang menjadi persoalan di sini, tahukah kita kalau rakyat itu juga punya aspirasi, punya pendapat untuk dilontarkan terhadap pemerintah? Ini bukan semacam bantahan, tapi pendapat, yang barangkali, dengan pendapat atau masukan dari mereka dapat mengubah tatanan negeri ini menjadi lebih baik. Tapi, amat disayangkan, nyatanya, sebagian petinggi-petinggi ini memilih untuk tutup telinga ketika rakyatnya menyampaikan opininya. Mereka beralasan, rakyat tetaplah rakyat, yang tidak tahu apa-apa soal polemik negeri ini. Itulah kiranya mengapa mereka lebih memilih untuk ‘menulikan’ telinganya dengan sengaja.
Ah, mungkin saja hal-hal semacam ini yang menjadikan negeri ini kian karut-marut. Padahal, setiap rakyat punya aspirasi dan ide-ide yang brilian yang apabila direalisasikan akan memberikan corak yang berbeda dari hari-hari yang telah lalu mengenai negeri ini. Tetapi, berhubung tidak semua petinggi negeri ini tidak mau mendengar aspirasi rakyatnya, maka hilang sudah material-material yang seharusnya dapat membangun negeri ini menjadi lebih baik lagi di mata dunia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar