Selama ini, posisi rakyat
hanya sebatas rakyat. Yang cukukp mendengar dan mengikuti kebijakan-kebejikan
pemerintah. Dengan kata lain, rakyat diibaratkan seorarang anak yang harus
menuruti apa kata orang tua. Tidak boleh membantah, apalagi melwawan. Sementara
pemerintah layaknya orang tua, yang selalu mengatur anak-anaknya supaya menjadi
anak yang baik, kalua menurut bahasa agama, anak soleh dan solehah. Tentu, ini
tidak salah. Baik malah. Artinya pemerintah cukup perhatian dengan rakyatnya.
Yang menjadi persoalan di
sini, tahukah kita kalau rakyat itu juga punya aspirasi, punya pendapat untuk
dilontarkan terhadap pemerintah? Ini bukan semacam bantahan, tapi pendapat,
yang barangkali, dengan pendapat atau masukan dari mereka dapat mengubah
tatanan negeri ini menjadi lebih baik. Tapi, amat disayangkan, nyatanya,
sebagian petinggi-petinggi ini memilih untuk tutup telinga ketika rakyatnya
menyampaikan opininya. Mereka beralasan, rakyat tetaplah rakyat, yang tidak tahu
apa-apa soal polemik negeri ini. Itulah kiranya mengapa mereka lebih memilih
untuk ‘menulikan’ telinganya dengan sengaja.
Ah, mungkin saja hal-hal
semacam ini yang menjadikan negeri ini kian karut-marut. Padahal, setiap rakyat
punya aspirasi dan ide-ide yang brilian yang apabila direalisasikan akan
memberikan corak yang berbeda dari hari-hari yang telah lalu mengenai negeri
ini. Tetapi, berhubung tidak semua petinggi negeri ini tidak mau mendengar
aspirasi rakyatnya, maka hilang sudah material-material yang seharusnya dapat
membangun negeri ini menjadi lebih baik lagi di mata dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar